plataran readme cv portfolio inspirasi
Gentleness and kind persuasion win where force and bluster fail.
   

Artikel : Sketsa
Aceh Hari #1: Wisata Hati
Dikirim oleh admin
Kamis, 27-April-2006, 22:40:12 (1962 klik) Kirim ke Teman Versi Cetak

Sabtu pagi, 25 Maret 2006, tepat jam 05.00 WIB aku terbangun karena alarm handphone yang tergolek tepat di atas kepala berbunyi nyaring mengoyak ketenangan alam mimpiku. Dengan sedikit berspekulasi, seperti biasa dengan mata masih terpejam dalam gelapnya kamar, tangan kananku berusaha meraih dan mematikan alarm itu. Duh, karena handphone baru, jari-jariku masih belum cerdas melaksanakan tugas. Damn! Dan terbangunlah aku.

Pagi ini suasana Jakarta berselimut mendung. Melongok keluar jendela rumah, suasana masih sepi. Anak-anak sekolah sebelah rumah yang biasanya sudah bergerombol di depan rumah dan berbuat kegaduhan dengan suara-suara kecilnya masih belum kelihatan batang hidungnya. Sambil menikmati teh manis dingin dari kulkas, aku lihat masih banyak barang-barang berserakan di atas meja yang belum aku masukkan ke tas ransel.

Ya, hari ini aku akan melakukan perjalanan jauh, ke ujung paling barat Indonesia, Banda Aceh. Tempat yang selama ini hanya aku kenal dari buku, dari lagu, dari koran, dan sering sekali aku lihat dari televisi. Tak pernah sebegitu kuat keinginanku seperti kali ini, melakukan perjalanan ke sebuah wilayah antah-berantah yang sama sekali tidak aku kenal apa dan bagaimananya, sendirian.

Modal nekat ? Tidak juga. Menjelang keberangkatan, aku telah melakukan berbagai komunikasi dengan beberapa teman virtual di Aceh untuk mendapat gambaran tentang Aceh. Sedikit banyak hal ini membantuku dalam mempersiapkan diri "menikmati" perjalanan. Juga dalam beberapa hal, aku banyak mendapat bantuan "perbekalan" dari kawan di Solo dan Jakarta.

Tiket pesawat sudah seminggu sebelumnya aku pesan. Handphone baru siap menemaniku, menggantikan handphone lama yang rusak dua hari sebelumnya. Sebagian kaos dan baju sudah masuk ransel. Kamera dijital terlihat teronggok di atas meja. Ada juga sepasang sepatu panjat tebing yang sudah aku persiapan malam sebelumnya, tampak tergolek di pojok ruangan. Satu-persatu barang itu aku bereskan dan sebentar kemudian sudah rapi masuk di tas ransel hitam yang tak begitu besar. Tak perlu tas besar memang, karena hanya untuk membawa perbekalan selama 2 hari 1 malam.

Pesawat yang akan membawaku ke Banda Aceh dijadwalkan terbang jam 12.00 WIB. Artinya aku tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai pagi ini, apalagi Bintaro - Cengkareng bukanlah jarak yang dekat. Sesuai pengalaman, hari Sabtu jalanan ibukota masih lumayan sibuk, masih banyak anak sekolah yang diantar dengan mobil. Ditambah suasana mendung yang semakin pekat, terlintas kemungkinan-kemungkinan buruk di otakku.

Tepat jam 08.00 WIB aku meninggalkan rumah. Langkah mantap aku ayunkan, dengan segala rencana. Tentu saja dengan rencana, karena hanya orang bodoh saja yang melakukan segala sesuatu tanpa rencana. Masalah rencana tercapai atau tidak, ataupun berapa persen tercapainya, itu urusan belakangan.

Dan benar saja, selama perjalanan dengan taksi menuju bandara, hujan gerimis mengguyur rata Jakarta. Di luar prediksiku, jalanan menuju bandara ternyata tidak macet seperti biasanya. Repotnya, aku harus menunggu begitu lama sebelum terbang, karena jam baru menunjuk angka 10.00 ketika aku sampai di bandara. Tak apalah, daripada ketinggalan pesawat. Untungnya lagi, maskapai penerbangan yang aku pakai memberikan makan siang, sekalian untuk sedikit bersantai.

Mendekati jam 12.00 WIB aku sudah berada di ruang tunggu. Tak lupa aku kirim SMS ke seorang kawan di Aceh mengabarkan aku akan segera terbang. Benar saja, jam 12.20 WIB sesuai dengan jadwal, pesawat yang akan membawaku ke Aceh siap terbang. Pesawat ini nantinya akan transit di bandara Polonia Medan.

Di dalam pesawat, duduk di sampingku seorang wanita muda berjilbab, mengaku asli dari Semarang, sekarang menetap di Jakarta, dan sedang ada tugas di Aceh. Dalam obrolan ringan denganku, dia seorang karyawan sebuah kontraktor dan sedang mengawasi sebuah proyek pembangunan di Aceh. Dua kali sebulan ke Aceh, demikian dia mengaku. Semakin lama ngobrol denganku, suasana semakin akrab, dan dengan lancar dia memberiku banyak informasi tentang suasana kehidupan di Aceh, dari masalah penginapan, makanan, tempat hang-out, dll. Satu lagi sumber informasiku bertambah :) Dari sekian hal yang dia katakan, ada satu pernyataannya yang cukup mengusik: kalau hanya untuk dua hari di Aceh masih menyenangkan, namun jika lebih dari seminggu pasti sudah mulai jenuh dan membosankan. Hmmm...

Dua jam sepuluh menit kemudian, pesawat mendarat di bandara Polonia Medan. Waktu transit sekitar 30 menit, tetap berada di dalam pesawat. Kemudian pesawat melanjutkan perjalanan ke Aceh. Cuaca perjalanan Medan - Aceh ini jauh lebih buruk dibanding Jakarta - Medan. Sering sekali pesawat bergoyang hebat dan pilot mengatakan dari ruang kokpit, cuaca kurang bersahabat. Dari jendela pesawat memang terlihat gumpalan awan hitam memeluk erat tubuh pesawat. Aku hanya pasrah, mau bagaimana lagi ?

Jam 15.30 WIB, setelah sekitar 45 menit mengudara dari Medan, pesawat mendarat di Bandara Iskandar Muda Aceh. Cuaca terang, cenderung panas, matahari cukup menghangatkan kulitku setelah tiga jam lebih dibalur udara ber-AC dalam pesawat. Bandara Iskandar Muda Aceh tidaklah besar, ruang tunggu dan ruang kedatangan pun berukuran kecil. Lebih nampak sebagai puskesmas atau rumah bersalin :)

Menunggu di ruang kedatangan, aku SMS ke kawan Acehku mengabarkan bahwa aku sudah sampai di bandara. Dia membalas akan segera menjemput. Sekitar 20 menit kemudian, aku bertemu dengan kawan virtualku itu. Sal, demikian dia sering dipanggil, seorang kawan yang aku kenal melalui milis klub motor yang aku dirikan, dan baru bertemu hari ini. Aroma brotherhood kental terasa diantara kami.

"Jadi ke mana nih kita?" tanya Sal sambil kami berjalan menuju motornya.

Sedikit berbasa-basi, aku menjelaskan rencanaku hari ini, yakni mencari penginapan dulu, menaruh tas dan segala perlengkapan di penginapan, ke rumah Sal, dan kemudian meluncur ke tujuan utama, Peulangan.

Dengan ramah Sal mengantarku dengan motor Satria F150 birunya. Kebetulan juga jalan dari bandara lurus dan sepi, kiri kanan masih terhampar sawah. Beberapa bagian jalan terlihat berkubang dan rusak, namun dengan sigap Sal melewati rintangan tersebut. Selama perjalanan, Sal juga banyak menjelaskan tempat-tempat yang dilewati, termasuk sewaktu dia menunjuk sebuah kuburan massal di sisi kiri jalan menuju Banda Aceh.

"Nah itu kuburan massal," ucap Sal dari balik helm-nya.

Ya, itulah kuburan massal Lambaro, Aceh Besar. Tanah yang dijadikan kuburan massal itu berada persis di tepi jalan antara Bandara Sultan Iskandar Muda dan Banda Aceh. Lokasinya berseberangan dengan makam Maharajalela, sebuah makam yang tampaknya dikeramatkan. Jaraknya sekira 5 km dari bandara. Yang terlihat olehku adalah sebuah tanah kosong, dengan beberapa gundukan besar, bukan lagi tanah merah. Di atasnya banyak tertancap bendera merah putih. Di dekat makam juga terdapat dua buah rumah. Tidak ada kesan ngeri di tanah itu, meskipun di bawahnya tertimbun banyak korban tsunami.

Setelah sekitar 20 menit berkendara dengan kecepatan yang cukup moderat, aku sampai di sebuah hotel bernama Hotel Rasa Mala Indah. Bergegas aku ke bagian resepsionis, menanyakan ketersediaan kamar. Dengan senyuman, resepsionis mengatakan semua kamar sudah terisi. Sedikit gontai aku menghampiri Sal dan memintanya untuk mengantarku mencari lagi tempat penginapan dengan tetap berpatokan harus dekat wilayah Peulangan.

Sejurus kemudian aku sudah sampai di Wisma Iskandar Muda. Berbincang sebentar dengan resepsionis, aku memutuskan untuk mengambil satu kamar. Setelah membayar lunas, aku diantar oleh petugas wisma ke kamar di sisi kanan kompleks wisma. Tak terlalu bagus memang, tapi aku tak punya pilihan, toh hanya untuk dua hari satu malam. Semua barang bawaanku segera aku taruh di kamar.

Jarum jam sudah menunjuk ke jam 17.30 WIB ketika kemudian aku memutuskan mengajak Sal mencari makan. Berdua kami meluncur ke daerah Peunayong, mampir di warung Purnama. Aku memesan ayam bakar, sementara Sal memilih nasi goreng.

Setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan menyusur jalanan Banda Aceh. Suasana jalan-jalan protokol tidaklah begitu padat, bahkan bisa dibilang lengang. Motor Satria F150 dipacu Sal dengan kecepatan rata-rata.

Menjelang maghrib, kami sampai di rumah Sal. Nongkrong di depan rumah, ngobrol santai ditemani gelap malam yang semakin menggayut. Topik peristiwa Tsunami mendominasi obrolan, apalagi ketika seorang tetangga Sal bergabung dalam obrolan.

Melirik jarum jam sudah menunjuk pada angka 7 lewat 30, aku bergegas mengajak Sal menuju Peulangan. Sebelumnya, aku sempat berkenalan dan sekalian pamitan dengan keluarga Sal. Mereka sangat ramah dan terbuka.

Ditemani malam, kami segera meluncur ke Peulangan, Desa Lhong Cut di Kecamatan Banda Raya. Kecamatan Banda Raya adalah salah satu kecamatan di Kota Banda Aceh. Sayangnya aku terlambat beberapa saat. Semua penghuninya sedang keluar. Setelah melakukan kontak berapa kali, akhirnya aku bertemu dengan keluarga besar Peulangan di daerah Simpang Surabaya.

Sebentar bernego, akhirnya aku terdampar di suatu kedai kopi, namanya Kafe Terapung, di daerah Ule Kareeng.

Meskipun aku tidak suka kopi - bahkan pernah trauma dengan kopi dan aromanya, aku beranikan diri mencoba memesan kopi Aceh. Tak tanggung-tanggung, aku pesan dua cangkir kopi sekaligus, yang tanpa susu dan yang campur susu. Aku tak banyak ngobrol di tempat itu, mencoba berkonsentrasi menikmati kopi Aceh yang terkenal :)

Sekitar dua jam aku menghabiskan waktu di tempat itu. Ketika kopi sudah aku habiskan, ketika bibir sudah mulai berasa kesemutan :) kami memutuskan balik ke penginapan untuk persiapan hari berikutnya berwisata di tanah rencong. Dalam perjalanan, Sal menanyakan rencana esok harinya. Aku bilang semuanya masih belum jelas, harus menunggu esok paginya.

Sesampainya di penginapan, sambil melambai kepada resepsionis, aku langsung masuk ke kamar.

Ketika baru saja melepas kaos dan menuju kamar mandi, HP ku berbunyi.

"Kamu di mana? Aku sudah di depan", begitu suara di ujung telepon, memintaku keluar ke halaman penginapan.

Kaos aku sambar lagi sembari bergegas keluar kamar. Dengan pakaian seadanya, kaos dan celana 3/4 aku menuju halaman depan, berpikir akan berbincang di lobby penginapan.

Ternyata keluarga besar Peulangan sudah menunggu di dalam mobil. Aku mengajak mereka untuk ke lobby penginapan, tapi ditolak. Tampaknya aku salah memahami tentang pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Ya, sepertinya aku melewatkan WH!

Wilayatul Hisbah atau lebih dikenal dengan istilah WH di Aceh merupakan pengawas pelaksanaan Syariat Islam. Akhir-akhir ini WH begitu populer seiring maraknya sweeping yang dilakukan tim WH di tempat-tempat seperti hotel, kafe, salon dan berbagai tempat yang ditengarai sebagai tempat pelanggaran Qanun berkaitan dengan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

"Ini Aceh, sudahlah, masuk dan duduk, jangan sok tahu," terdengar permintaan - kalau tak mau dibilang perintah - dari dalam mobil. Damn! Saat itu juga hati kecilku langsung menolaknya, namun sisi kesabaranku membujukku untuk mengikutinya. Demi menghormati tuan rumah, aku memenuhi permintaan.

Aku masuk dan dibawa memutari kota lagi, melewati daerah yang siang sebelumnya sudah aku putari beberapa kali :) Entah ke mana aku tak tahu rencananya, daripada komplain mending diam, menikmati dinginnya AC mobil :p sambil menahan kantuk luar biasa. Detik yang membosankan, sungguh!

Setelah memutari kota beberapa saat, aku tiba di Peulangan. Mengambil tempat di salah satu ruangan di sudut rumah, dekat dengan dapur, berlatar belakang kolam ikan, aku menghabiskan hampir satu jam malam itu ngobrol dengan salah satu anggota keluarga besar Peulangan. Tak banyak topik menarik yang aku perbincangkan, terus dan terus saja membenturkan prinsip hidup masing-masing. Kalau boleh memilih, aku ingin menghindari benturan-benturan itu, dan segera cabut balik ke penginapan. Lagi-lagi sisi kesabaranku menahanku untuk tetap bertahan lebih lama. Ya... aku ikuti saja permainan ini.

Ketika semuanya selesai - atau dianggap selesai (?) - aku diantar oleh salah satu keluarga Peulangan kembali ke penginapan. Gila, tanpa jaket hanya berkaos, tanpa celana jeans hanya celana 3/4 tipis, aku benar-benar menikmati udara dingin tengah malam yang terasa menusuk sampai ke tulang. Sampai di penginepan, aku ucapkan terima kasih kepada kawan Peulangan.

"Terima kasih, kawan, sudah mengantarku. Dan sekalian aku pamit, besok sore aku balik ke Jakarta, sepertinya aku tak mampir lagi ke Peulangan," demikian aku bilang ke dia sambil mengulurkan tangan dan berjabat.

Kembali aku memasuki kamar. Tak sempat lagi mandi, langsung merebahkan diri di kasur, melepaskan segala kelelahan pikir, dan tertidur...

Hari pertama di Tanah Rencong sudah selesai.




   
Copyleft © 2006 pk, datacrux indonesia pernyataan & kesepakatan