| |
 |
| Mengenang Bapak: Meninggal dengan Indah | | Dikirim oleh admin |
| Jumat, 07-April-2006, 16:26:51 |
(2543 klik) |
 |
 |
|
|
Tanggal 1 dan 2 April 2006 aku balik ke Yogya untuk berkumpul bersama keluargaku memperingati 40 hari meninggalnya Bapak. Yah, tak terasa sudah lebih dari sebulan Bapak menghadap Sang Khalik, Yang Empunya Hidup. Prosesi peringatan - baik tiga harinya, tujuh harinya, 40 harinya (dan tentunya peringatan-peringatan selanjutnya) selalu saja membawa seluruh kenanganku ke masa beberapa hari menjelang Bapak meninggal, sewaktu Bapak berkunjung ke Jakarta.
|
|
|
Kaget. Itu mungkin satu kata yang bisa mewakili seluruh perasaan kami yang ditinggal Bapak. Bagaimana tidak, lima hari sebelum Bapak wafat, beliau bersama Ibu masih menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya masing-masing di Jakarta dan Tangerang (kami empat bersaudara, telah memiliki rumah masing-masing, tersebar di Pamulang, Bintaro, dan Balaraja).
Februari pertengahan, waktu itu salah satu kakakku sedang pulang ke Yogya. Waktu itu aku sempat menelpon Ibu di Yogya, dan sedikit heran ketika Ibu menceritakan kalau Bapak "klayu" (merengek ingin ikut) ke Jakarta. Ketika itu aku masih sempat berseloroh kepada Ibu, "Terakhir ke Jakarta bulan Desember 2005, kok tiba-tiba ingin ke Jakarta lagi, ada apa ini".
Seloroh tinggal seloroh, tak terlalu terbahas mendalam, lewat begitu saja.
Memang, tujuan utama kedatangan Bapak kali ini adalah sebagai "penegasan" dan "undangan resmi" karena beliau merencanakan akan mengadakan baptisan pada bulan Juni 2006. Dalam usianya yang ke 76, dengan segala kendala karena usia - yang paling parah adalah kondisi penglihatannya yang sudah sangat terbatas - Bapak "memerlukan diri" untuk mengunjungi seluruh anaknya dan memastikan semuanya bisa mengambil cuti dan berkumpul di Yogya pada bulan Juni 2006.
~~~
Hari Kamis malam, 16 Februari 2006, seperti biasa aku pulang kerja. Sampai di rumah, ternyata Bapak dan Ibu sudah datang. Tak ada penyambutan khusus dariku, semua serba seperti biasa, seperti hari-hari lain ketika Bapak dan Ibu berada di Jakarta. Ngobrol sebentar, kemudian aku pergi ke beli makan, maklum di rumah tidak ada acara masak-memasak :) Waktu itu Bapak sempat aku tanya ingin makan malam apa, Bapak menyebut sebuah masakan dan aku belikan. Aku dan Bapak sempat makan bareng, satu meja, hal yang selama ini jarang terjadi, sambil ngobrol beberapa topik ringan.
Menjelang tengah malam, Bapak dan Ibu rebahan beralas tikar di ruang tengah rumahku. Beliau lebih suka di situ karena merasa tidak panas, selain rumahku memang belum lengkap perabotnya :) Sambil rebahan, Bapak bercerita tentang orang-orang seumurannya dan seangkatannya yang sudah dan belum meninggal. Aku menganggapnya sebagai guyon belaka. Yang masih benar-benar aku ingat, Bapak sempat berkata "Rudini kae meninggal umure mung kacek 1 taun karo aku, lha nek Harto kae ora mati-mati lha kegolong wong ndableg". Harto yang dimaksud tentu saja Soeharto. Aku ngakak mendengarnya. Bapak memang seorang Soekarnoist.
Mereka berdua sudah mengambil posisi tidur, ketika kemudian secara spontan, entah ada dorongan dari mana, aku menelepon "seseorang" yang sedang ada di Aceh yang aku anggap paling dekat denganku (saat itu), dan dengan spontan pula aku tawarkan untuk ngobrol dengan Bapak. Tanpa dosa, Bapak aku usik dengan menyodorkan telepon genggamku, beliau beranjak duduk kemudian ngobrol lumayan lama dengan "seseorang" itu. Bapak dengan lugas memindahkan telepon genggam ke Ibu, mungkin biar sekalian berkenalan, mumpung di Jakarta. Entah apa yang diomongkan aku tak terlalu menghiraukan. Tapi yang pasti, Bapak terus banyak bertanya dan membahas tentang "seseorang" itu, aku jawab dan aku jelaskan apa adanya. Bahkan aku sempat tunjukkan fotonya melalui laptopku, meskipun Bapak sudah tidak mampu melihat dengan jelas lagi. Dia berkomentar lucu, ketika berusaha mendekatkan wajahnya ke layar monitor, sangat dekat, melihat foto sosok bertopi. Aku ngakak lagi. Memang lucu tenan Bapakku ini...
Kembali Bapak dan Ibu bersiap menjemput mimpi, sementara aku masih sibuk dengan urusanku. Sambil memejamkan mata, Bapak kembali mengutarakan pendapat dan kekagumannya tentang lawan bicaranya di telepon tadi, yang Bapak sebut dengan beberapa istilah. Aku seneng melihat Bapak bersemangat seperti itu. Tak lama berselang, kita masing-masing sudah menjemput mimpi, tidur dalam dekapan udara malam yang cukup dingin.
~~~
Hari Jumat, 17 Februari 2006, pagi sudah menjelang. Ketika mataku masih rapat tertutup, terdengar Bapak dan Ibu sedang ngobrol santai membicarakan hal yang sama dengan malam sebelumnya. Pun ketika aku habis mandi dan bersiap-siap berangkat kerja, masih saja topiknya seputaran seseorang yang di Aceh itu. Sambil bersiap berangkat kantor, aku jawab sekenanya semua pertanyaan Bapak :) Maklum absenku dalam beberapa waktu terakhir sudah sering merah, jadi bawaannya buru-buru kalau pagi :)
Sesuai rencana, malamnya Bapak dan Ibu akan berkunjung ke rumah kakakku di Balaraja Tangerang, dan aku berjanji mengantarnya. Jam 17.00 tepat aku bergegas pulang kantor. Sampai di rumah suasana masih santai. Mendung tampak menyelimuti Bintaro. Aku sendiri sudah memutuskan berangkat sekitar pukul 21.00 biar jalanan tidak terlalu padat, sekalian memberikan waktu yang cukup buat Bapak dan Ibu untuk berkemas.
Ada satu hal yang sebenarnya di luar kebiasaanku dan aku benar-benar tak kuasa menolaknya. Biasanya, aku tak mau diganggu jadwal main sepak bola dengan teman-teman kantor di Sabtu pagi. Selalu saja aku menggeser jadwal yang mengganggu kegiatan olah ragaku ini agar tidak bentrok. Hanya saja... ya... kali ini entah kenapa aku menjadi sangat "permisif" dan mengalahkan jadwal main bola demi mengantar Bapak dan Ibu di hari Jumat malam (menginap di rumah kakak sampai Sabtu siang). Yang ada di benakku waktu itu adalah: Bapak dan Ibu tidak tiap minggu datang ke Jakarta, sedangkan main bola minggu depan masih bisa. Itu saja, dan aku benar-benar tak kuasa dan tak lagi memiliki "akal licik" untuk menggeser-geser jadwal. Sungguh mengherankan.
Benar saja, sesaat sebelum berangkat, hujan gerimis turun. Karena sudah direncanakan, aku pun tetap mempersiapkan mobil. Sayangnya, setelan langsam / stasioner gas mobil tidak sempurna sehingga mesin mobil sering mati jika aku tinggal. Usut punya usut, tadi siang harinya mobil baru saja diutak atik dan gas-nya disetel terlalu kecil. Bapak sempat marah, sangat marah, ketika ada tetangga yang bilang itu bukan masalah besar. Dengan nada tinggi dan sambil keluar dari mobil Bapak bilang, "Tidak! Kalau mobil tidak sempurna lebih baik tidak berangkat!" Setelah disetel ulang, kondisi mobil sudah kembali langsam dan stasioner, dan Bapak kembali masuk ke mobil bersama Ibu.
Perjalanan Bintaro - Balaraja ternyata benar-benar menjadi perjalanan yang panjang. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan ditemani hujan sangat sangat deras, diselingi suara petir menggelegar, terkombinasikan dengan hembusan angin yang sangat kencang. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Apalagi sewaktu melintasi daerah BSD, terpaksa Ibu merelakan sapu tangan dan handuknya untuk aku pakai nge-lap kaca saking berembunnya :) Bapak sempat menyarankan untuk berhenti sebentar jika memang cuaca sangat tidak bersahabat, "Perlu leren dhisik ora, Dit?" Aku hanya menjawab singkat "Ora po po, isih iso terus." Pertimbanganku cukup sederhana, kalau berhenti dulu bisa besok pagi sampai di Balaraja :)
Syukurlah, memasuki tol Jakarta - Merak cuaca sudah mulai bersahabat. Mobil sudah bisa aku pacu dengan sedikit cepat, meskipun di sana-sini jalan tol tergenang air.
Sekitar jam 23.00 kita sampai di Balaraja, di rumah kakakku. Kita ngobrol santai di ruang tamu, ditemani tangis anak kakakku yang masih bayi. Ada banyak topik lucu yang mengalir malam itu. Tetap saja, yang utama adalah Bapak memastikan dan menegaskan kembali rencana acara baptisan bulan Juni 2006.
Ketika itu sempat aku tanyakan ke Bapak, "Nama baptis e sesuk sopo, Pak?". Dengan gaya santai namun tegas Bapak menjawab, "Aku kuwi kan wis duwe seko mbiyen, Bonifasius." Aku dan kakakku hanya tertawa dan aku timpali, "Wuih, Pak Boni". Kita semua tertawa, Bapak hanya senyum-senyum kecil. Aku bahkan tidak mengorek lebih lanjut mengapa memilih nama Santo Bonifasius (belakangan aku tahu bahwa peringatan Santo Bonifasius diadalan tiap tanggal 5 Juni, sama persis dengan hari lahir Bapak).
Sedikit mengulas ke belakang, dulu Bapak memang sudah pernah akan dibaptis, hanya karena "satu dan lain hal" pada hari H-nya Romo-nya menolak dan menganggap Bapak belum siap. Itulah yang membuat Bapak - dengan segala sisi kemanusiawiannya - menjadi "mutung" selama lebih dari 30 tahun! Syukurlah, dalam beberapa tahun terakhir, Bapak sangat aktif mengikuti acara sembahyangan rutin di kampung. Bapak sudah merancang sedemikian rupa untuk menggenapi "panggilan imannya" tersebut dengan acara baptisan di bulan Juni 2006. Ya, dalam banyak kesempatan Bapak selalu mengatakan, "Baptis kuwi masalah penggilan, mbiyen aku durung merasa benar-benar terpanggil, saiki aku wis terpanggil."
Begitulah... tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Tengah malam sudah terlewati. Kemudian kami masing-masing "mengambil posisi" dan terlelap :)
~~~
Hari Sabtu, 18 Februari 2006, pagi menjelang siang, kita masih bersantai di ruang tamu. Karena aku membawa kamera dijital, beberapa jepretan aku lakukan. Tak pernah sekali pun terbayangkan olehku jika ini adalah kenang-kenangan foto terakhir bersama Bapak. Sama sekali tidak, karena Bapak terlihat sehat dan selalu bergurau! Yang ada dalam pikiranku waktu itu hanya memencet tombol dan terus memencet. Tak pedulikan hasilnya bagus ataupun kabur, toh kamera dijital ini memorinya kuat menampung banyak gambar.
Akhirnya siang hari, Bapak dan Ibu aku antar ke rumah kakakku yang di Pamulang. Rencananya, beliau akan balik ke Yogya naik kereta api diantar oleh kakakku yang di Pamulang. Aku tidak begitu lama di Pamulang, sempat makan bareng dengan Bapak, makan mie goreng. Sebelum kembali ke rumahku di Bintaro, aku sempat memotret rumah kakakku yang baru ditempatinya seminggu. Ini adalah amanat Bapak, karena beliau ingin membawa pulang ke Yogya foto rumah semua anaknya untuk diperlihatkan kepada tetangga-tetangga di Yogya. Mungkin inilah kebanggaan seorang Bapak kepada anaknya!
Tak ada firasat apapun sewaktu aku mulai meluncur meninggalkan Bapak dan Ibu di rumah kakak di Pamulang. Semuanya serba seperti biasa.
~~~
Hari Minggu, 19 Februari 2006, siang hari aku sempat diajak kakakku yang di Bintaro untuk ke Pamulang. Tapi aku menolaknya, rasanya malas sekali. Apalagi malam sebelumnya aku sudah menghabiskan waktu bersama Bapak dan Ibu. Akhirnya aku beberes rumah seharian. Sorenya kakakku bersama anaknya ternyata menyusul sekalian mengantar kepulangan Bapak dan Ibu di Stasiun Senen. Dari beberapa cerita, Bapak benar-benar akrab bermain dengan cucunya sesaat sebelum kereta berangkat.
Lagi-lagi, semua terasa serba biasa.
~~~
Hari Senin, 20 Februari 2006, pagi hari setibanya aku di kantor, Ibu kirim SMS tertanda jam 09.26: "Wis tekan ngomah did slamet ora kumat". Aku bales SMS itu dengan kata singkat: "Ok."
Memang, sekitar setahun sebelumnya, Bapak pernah mengalami sesak napas. Dulu sempat melakukan general check-up, dan disimpulkan oleh dokter ada sedikit pembengkakan jantung dan sedikit radang paru-paru. Tidak mengherankan memang, karena Bapak seorang perokok berat dari jaman masih muda. Jika klangenan-nya itu dikritisi, dengan santai beliau akan menjawab, "Aku kuwi ngrokok seko jaman enom. Lah urip nek ora duwe kesenengan yo piye. Lha wong sing ora ngrokok wae yo do mati enom." Begitulah... Keras kepala.
Ketika saatnya kontrol ke dokter, Bapak sudah benar-benar tidak mau. Beliau bilang, "Jenenge wis tuwa yo koyo ngene iki, awak e wis mesti rusak. Ngopo ndadak kontral kontrol mung ngentekke dhuwit". Ketika diminta minum obat pun ditolaknya mentah-mentah, "Wis ojo ngomongke obat, awakku lara kabeh nek ngomongke obat!"
Apapun dan bagaimanapun, itulah jawaban Bapak, dan kita semua sebagai anaknya hanya bisa menerima.
~~~
Hari Selasa sampai dengan Kamis aku tidak menelpon ke Yogya. Tidak ada firasat apa-apa.
~~~
Hari Jumat, 24 Februari 2006, pagi jam 04.17, sewaktu aku masih tertidur, Ibu menelpon dari Yogya. Ketika akan aku angkat, sambungan terputus. Rasa penasaran berkecamuk dalam diriku. Ada apa jam 04.17 menelpon ? Aku berusaha telpon balik. Nada sibuk. Pikiranku mulai merangkai hal yang beraneka ragam, tapi yakin pasti ada masalah dengan kesehatan Bapak. Aku coba telepon lagi, kali ini tersambung. Suara Ibu di ujung telepon bergetar hebat, terdengar terselubung rasa panik yang luar biasa, dan dengan terbata Ibu berkata, "Dit, Bapak wis dipundhut, Bapak seda, iki piye Dit, kowe gek ndang bali". Dalam sepersekian detik aku kaget, dan ketika Ibu mulai menangis aku hanya bisa menjawab, "Yo, yo wis, yo wis" kemudian telepon aku tutup.
Kaget. Sangat kaget. Aku tidak pun menangis. Sejenak aku tidak beranjak dari tempat tidur. Pikiranku kembali merangkai-rangkai mengenang perjalanan hidup Bapak beberapa hari sebelumnya.
Begitu cepat. Sangat tidak disangka. Anehnya, aku tidak pernah menganggap apa yang berkecamuk di hati dan pikiranku adalah sebuah kesedihan. Aku senang, bangga, sebagai anak telah memberikan "pelayanan terakhir yang terbaik" kepada Bapak selama di Jakarta, dengan segala kejadian-kejadian di atas. Ya, aku bangga, Bapak telah menghadap Sang Khalik, Yang Empunya Hidup dengan sangat cepat, tidak menyakitkan, dan tidak merepotkan, setelah mengunjungi semua anak-anaknya.
Pagi itu juga kakakku yang di Pamulang ke Bintaro, berangkat bareng ke Bandara, dan secara tidak sengaja kami bisa bertemu dengan kakak yang dari Balaraja. Akhirnya pulang ke Yogya dalam satu pesawat! Hanya sebuah kebetulankah? Entahlah.
Sampai di rumah Yogya sekitar jam 12.00.
Ketika berjalan memasuki rumah, menuju ruangan dimana jenazah Bapak disemayamkan, aku bertemu Ibu yang menunggu di samping peti jenazah Bapak. Belum sempat aku melihat jenazah Bapak, Ibu sudah menyambut dan memelukku dengan erat, sambil menangis Ibu berulang-ulang mengatakan kalau Bapak sudah meninggal. Aku cuman bisa diam.
Kemudian aku berjalan menuju peti Bapak. Terlihat ada salib kayu besar di depan peti, bertuliskan: Bonifasius Siswono, Lahir 5-6-1930, Wafat 24-2-2006. Puji Syukur kepada Tuhan, Bapak sudah menyandang nama baptis yang sudah disimpannya selama 30 tahun lebih! Ya, Bapak sudah dibaptis, sesaat setelah meninggal. Manusia memang telah berusaha keras berencana, namun Tuhan jugalah yang menentukan semua. Bapak dipanggil lebih cepat melebihi rencana yang telah disusunnya untuk melaksanakan Baptis di bulan Juni 2006. Sungguh, Bapak sudah sempurna terbaptis secara imani jauh sebelum baptis secara ragawi.
Di depan peti jenazah. Di situlah suasana sentimentilku mulai menyelimuti. Aku lihat jenazah Bapak terbaring di peti, raut wajahnya tersenyum, tampak tenang. Mataku berkaca-kaca. Dalam hatiku berkata, kalau aku mau menangis, menangislah sekarang, jujurlah untuk kali ini! Rasanya ada semacam beban berat yang menggantung di leherku, yang ingin segera aku ledakkan. Sungguh, ini adalah suasana sentimentil. Aku berusaha tetap tenang. Semakin lama aku tatap jenazah Bapak, aku semakin tenang.
Kaku, ketika aku pegang tangan Bapak. Dingin, ketika aku sentuh kulit wajah Bapak. "Selamat jalan, Bapak," itu mungkin kata-kata yang selalu terulang di dalam hati, ketika aku tiada lagi mampu berkata.
Ada semacam rasa tidak rela dan tidak percaya. Bagaimana mungkin Bapakku, seorang yang berdisiplin, berwatak keras, seorang pendekar silat, terbaring kaku di sebuah peti mati yang terasa sangat sempit, dikelilingi taburan bunga mawar. Diam. Tak bergerak.
Cukup lama aku berdiri di samping peti, terus menatap wajah Bapak, dan berusaha menerima dan menenangkan diri, mengendapkan segala ingatan akan Bapak beberapa hari sebelumnya ketika masih ngobrol bareng di Jakarta.
Sesaat setelah semuanya tenang, aku ngobrol dengan Ibu. Kemudian Ibu menceritakan saat-saat terakhir Bapak sebelum meninggal.
Kamis sore, Bapak masih sempat bersih-bersih halaman. Ketika itu teman-teman sembahyangan Bapak datang, dan ditawari untuk memilih beberapa tanaman hias dalam pot, karena Bapak akan membersihkan tanaman itu dari halaman.
Kamis malam, Bapak sempat mengatakan kepada Ibu, "Aku kok prindang-prinding yo..." Sehabis mandi Bapak meminta Ibu menghangatkan tahu yang kemudian dimakan sambil menonton televisi. "Wah jan kemepyar," begitu komentar Bapak setelah menyantap tahu beserta cabainya. Bapak memang suka makanan yang pedas.
Sebelum tidur, Bapak meminta dikerok, dan beranjak tidur.
Baru tidur sebentar, Bapak terbangun dan ke kamar mandi menyikat gigi, sementara Ibu memang masih belum tidur. Bapak kembali ke tempat tidur. Ketika Bapak melihat Ibu masih keluar masuk kamar, Bapak sempat berkata kepada Ibu, "Kowe gek turu o, mengko nek perlu tangi bengi barang."
Ternyata itu adalah pesan Bapak terakhir ke Ibu.
Hari Jumat, tertanggal 24 Februari 2006, sekitar jam 04.15, Ibu yang tidur di samping Bapak terbangun mendengar Bapak tersengal dua kali, kemudiam Bapak diam. Ibu segera berusaha membangunkan Bapak, tapi Bapak tetap diam.
Ya, Bapak telah pergi... Bapak sudah meninggal, meninggal dengan indah.
|
|
|
|
|
Total Klik: 218158
Total Online: 3
|
|
|
|